Thursday, September 25, 2014

Lembaran Kisah Klasik #5

      Sumber foto : Adera - Melewatkanmu


Lanjutan dari postingan sebelumnya di Lembaran Kisah Klasik #4
###


Saat ini (2007)

Masih teringat jelas, semuanya masih dapat ku ingat dengan baik. Bagaimana mungkin aku bisa lupa jika hati dan perasaanku masih tetap bersama dia. Dia yang sejak sepuluh tahun lalu, tak pernah ku lihat lagi. Nita, kamu ada dimana? Apa kabarmu? Saat ini, apakah kamu sudah bisa mencintai aku lagi???.



***

Terbayang kembali semua cerita itu. Terutama ketika hari dimana pernikahanmu berlangsung. Saat itu aku berangkat ke sekolah seperti biasa, dan ku melewati rumahmu. Ku lihat semua persiapan-persiapan acara pernikahan. Sakit, rasa sakit yang aku sendiri bingung bagaimana cara untuk aku bisa mengungkapkannya dengan tulisan. Namun, pada saat itu aku tetap tenang, hingga sampai di sekolah, teman-temanku mulai menghasutku untuk menggagalkan pernikahan itu. “Kami siap menjadi pasukanmu untuk menggagalkan pernikahan itu, Kapten.” Begitu kata seorang temanku di kelas. Entah karena aku yang tidak teguh pendirian atau karena hasutan teman-temanku yang sangat mengerikan, hingga membuatku menyetujui hal itu.

Siap, kami telah siap untuk pergi. Semua pasukan dan peralatan penggagalan pernikahan itu telah siap. Hanya tinggal menunggu waktu, waktu dimana bel berbunyi yang menandakan jam istirahat pertama di mulai. Detik demi detik di jam seakan menghentak degup jantungku yang menuntut untuk segera pergi. Pergi ke tempat acara, sebelum akhad nikah di mulai.

Lima menit terhitung mundur. “Ayolah jam, cepatlah, sebelum semuanya terlambat.” Gumamku dalam hati. Waktu tinggal 5 menit sebelum bel berbunyi, sementara seorang guru geografi masih sangat bersemangat menjelaskan materi. Tok... tok... tok... suara ketokan pintu yang terdengar sangat keras menghentikan semua suara di kelas, termasuk suara guru geografi itu. Aku pun sontak menengadahkan kepalaku yang sedari tadi tertunduk melihat jam tangan yang ada di lengan kiriku. Beberapa orang dengan seragam yang sangat khas memasuki ruang kelas.
“Selamat pagi ade-ade, kami dari pihak kepolisian sebelumnya ingin meminta maaf telah mengganggu proses belajar mengajar kalian. Langsug saja, maksud kedatangan kami ini, hanya ingin merazia kalian. Jadi di mohon untuk berdiri di depan papan tulis dan meninggalkan tasnya tetap di tempat.”

“Ayo semua nak, segera tinggalkan tas kalian dan berdiri di depan kelas” Ujar kepala sekolah.

Semua murid berdiri, termasuk aku. Aku yang saat itu sedang memburu waktu, tentu saja langsung berdiri dan mengajak teman-teman untuk segera melaksanakan perintah. “Ayo teman-teman, agar kita segera istirahat, hehe” Begitu kataku. Semua polisi pun menggeledah tas kami. Sementara kami, hanya menghadap ke arah tembok tanpa tau tas siapa yang sedang di geledah.

“Tas ini milik siapa?” Terdengar suara yang sangat keras dan lantang itu sontak membuat kami semua terkejut. Kami semua menoleh secara perlahan untuk membunuh rasa penasaran siapa pemilik tas itu.

Perlahan aku melangkahkan kakiku kedepan, kemudian secara tiba-tiba seorang polisi menendang bagian belakang lututku hingga aku jatuh dan terlihat seakan berlutut. Polisi yang memegang tasku itu perlahan mengeluarkan beberapa barang berupa serbuk putih yang dibungkus dalam sebuah plastik bening. Aku tau itu sabu-sabu. Tapi sungguh, itu bukanlah kepunyaanku. Entah siapa yang mencoba menjebakku dengan cara seperti ini. Aku digiring keluar dari kelas menuju ke sebuah mobil polisi. Aku mendengar dengan jelas suara tangisan dan teriakan-teriakan dari teman-temanku yang terdengar sangat tidak merelakan kepergianku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mencoba untuk tegar dengan segala cobaan yang telah di berikan.

Aku dinaikkan ke sebuah mobil polisi dengan bak terbuka. Sampai saat ini aku masih binggung, mengapa bisa ada sabu-sabu di tasku. Aku melihat ke arah langit yang semakin gelap, awan hitam telah melapisi seluruh bagian langit. Langit pagi hari yang seharusnya berwarna biru cerah dengan beberapa awan putih menghiasi, telah berubah menjadi hitam pekat menakutkan. Air yang tadinya hanya rintik-rintik turun secara perlahan itu pun kini telah menjadi hujan, air turun dengan sangat lebatnya. Petir pun seakan tak ingin ketinggalan, petir menyambar-nyambar dengan suaranya yang begitu menggelegar. Ahh entah apa yang aku pikirkan ini, tiba-tiba mobil berhenti di sebuah rumah yang sangat aku kenali. Para polisi itu pun turun dari mobil. Aku sangat mengingat kejadian seperti ini, kejadian yang sangat persis ketika aku berada di depan rumahku, ketika ayahku di tangkap. Perasaan yang juga sama, sama tidak percaya dengan kenyataan yang ada, kenyataan yang sangat tidak ku harapkan. Aku diturunkan dari mobil oleh dua polisi yang sedari tadi menggenggam lenganku dengan erat. Ku berjalan dengan perlahan, hembusan angin yang begitu kencang seakan mencoba untuk merobohkanku. Belum lagi terpaan hujan yang terus menghujamiku bertubi-tubi. Ohh tidak, aku harus kuat. Perlahan kakiku sepertinya tak mampu untuk menopangku lebih lama lagi, aku tak sanggup untuk berjalan lagi. Aku terduduk ditengah hujan ketika aku menyadari bahwa rumah itu adalah rumah kekasihku Nita. “NITAAAAA” aku berteriak sekencang-kencangnya, seketika itu semua orang menoleh ke arahku. Tanpa terasa, air mataku pun keluar dengan sendirinya, aku merasa tidak kuat menerima semua cobaan cinta yang sangat tragis ini. Dengan pandangan samar-samar aku melihat Nita berdiri di tengah kerumunan orang yang sedang duduk menunggu akhad nikah di laksanakan. Dengan begitu kejamnya polisi itu pun menyeretku, memaksaku untuk datang ke tengah kerumunan itu.
“Pak tolong hentikan, biarkan aku disini saja pak, aku tak akan mampu untuk menyaksikan akhad nikah itu.”
Para polisi itu pun seolah tak mendengarkan permintaanku. Sepertinya mereka datang kesini bukan untuk sekedar mampir menyaksikan temannya menikah, tapi mereka kesini memang sengaja untuk menyiksa batinku, memang sengaja untuk melihatku tersiksa, memang sengaja untuk memperlihatkan akhad nikah itu.
Aku memberontak, aku mendorong kedua polisi itu hingga jatuh tersungkur. Tanganku yang terbogol itu tak menghalangiku sedikitpun untuk memberontak.

Aku mencoba berlari menjauhi tempat acara tersebut, bukan untuk kabur, hanya ingin menjauhi lokasi itu. Namun, baru beberapa langkah aku berlari, tiba-tiba terdengar keras suara senjata api. Aku jatuh tersungkur, ternyata pelurunya tepat mengenai kakiku. Aku menoleh kebelakang, kearah kerumunan orang itu. Disitu aku melihat Ardi dengan senyum kecil di bibirnya serta segenggam pistol di tangannya. Ahh, itu adalah senyum terjahat yang pernah aku lihat. Ku alihkan pandanganku ke Nita, dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Expresi itu lagi, expresi rasa tak percayanya itu terlihat lagi di hadapanku. Air matanya pun menetes menyentuh jemarinya, membuatku kembali yakin merasa bahwa cinta di hatinya masih ada untukku.

Tak lama kemudian, aku di seret kembali oleh dua orang polisi tadi, bukan untuk meninggalkan tempat itu setelah kejadian penembakan. Justru masih seperti yang tadi, semakin mendekat. Masih mencoba membuatku untuk mendengarkan akhad nikah itu. Ahh... apa yang di inginkan para polisi ini, menginginkan aku mati kehabisan darah atau aku mati karena sakit hati.
Semakin mendekat, dan masih di posisi yang sama, aku melihat Nita dan Ardi berdiri berdampingan dengan pakaian pengantin. Setelah dekat, tubuhku di jatuhkan di lantai. Saat itu pula aku melihat reflek Nita mencoba untuk segera membangkitkanku. Tidak sampai itu terjadi, Ardi ternyata tak kalah reflek, dengan sigap ia menarik lengan Nita dan menempelkan pistol di pinggangnya. Tak banyak yang melihat tindakan itu. Tapi aku, sangat jelas melihatnya. Amarahku begitu membeludak saat itu. Amarah yang berubah menjadi rasa sakit hati karena tak mampu bertindak apapun.

Saya terima nikahnya Nita Lestari bin Akbar hidayat dengan seperangkat alat solat serta uang tunai sebesar seratus juta rupiah di bayar tunai. Sah sah sah...
Tanpa bisa bergerak sedikitpun karena hampir kehabisan darah, aku tidak bisa menggagalkan pernikahan itu. Yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah menahan rasa sakit hati yang lebih sakit di bandingkan rasa sakit di kakiku ini karena menyaksikan akhad nikah itu.
Aku melihat air mata Nita yang terus menetes di sepanjang jalannya acara itu. Aku melihat rasa ketidak bahagiaanmu itu. Maafkan aku Nita, maafkan atas segala ketidak berdayaanku. Maafkan aku ayah, maafkan aku yang tidak bisa membantu persidangan itu untuk membelamu. Maafkan aku ibu, maafkan aku yang secara mau tidak mau harus meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku teman-teman yang tidak bisa membatalkan pernikahan ini seperti yang telah kita rencanakan bersama. Maafkan aku, maafkan aku.

***

Saat itu adalah saat terakhir aku melihat Nita, setelah kejadian itu aku diberi hukuman tujuh tahun penjara. Selama itu pula aku masih memikirkanmu, masih berharap untuk bisa bersamamu, masih berfikir untuk membalaskan dendamku kepada mereka semua, masih ingin berusaha mencari tau siapa yang telah menjebakku dengan sabu-sabu yang ada di tas ku, dan masih berharap untuk aku bisa membuatmu kembali mencintai aku.



#Bersambung

###


"Maaf jika saya sangat lalai mengabaikan postingan cerita ini. Jika dari cerita ini banyak yang tertarik, maka saya akan mencoba untuk memasukkan ke penerbit. Haha..."

1 comment:

  1. Cerbung
    indah seperti adegan panggung
    Melenting seru hingga ke gunung

    ReplyDelete