Friday, February 20, 2015

60




Dear : Reader



Surat ini bukan aku kirimkan untuk dia lagi.
Ya, kali ini aku tidak akan menceritakan tentang dia.
Tapi, kali ini aku ingin bercerita tentang kami (aku dan dia) Hehe.


Ada satu tempat di kota ini yang selalu menjadi tempat favorit kami. Tempat dimana kami bisa melihat bintang yang berbeda namun sama indah. Bintang itu ada di langit dan di daratan.
Bingung?

Begini saja, aku tidak akan jelaskan apa maksudnya, tapi semoga lokasi ini dapat menjelaskan semuanaya. Nama tempat itu adalah Cafe Puncak.

Entah seberapa sering kami kemari, namun tempat ini selalu sukses memberikan suasana yang membuat kami bahagia.

Malam ini seperti malam yang biasanya, tapi selalu aku anggap special bila kami bersama.

Aku mengendorkan gelang yang ada di lenganku. Kemudian melepasnya dan memasukkannya ke lengan kanan dia. Dia pun berkata:
"Untuk apa dipasang di lenganku?"

"Tentu saja untukmu"

"Tapi kan ini gelangmu, kamu bilang kamu susah payah membuatnya sendiri."

"Iya ini memang gelangku dan memang aku sendiri lah yang membuatnya. Tapi ini ku berikan untukmu"

"Ahh tidak, ini untukmu saja, kamu bilang kamu sangat menyukai gelang ini, lagi pula gelang ini tampak besar di lenganku"

"Haha besar ya? bukan itu bukan gelangnya yang besar, tapi lenganmu saja yang mengecil."

"Iya iya lenganku yang mengecil, makanya ini aku kembalikan kepadamu."
Dia mengembalikan gelangku dan memasangkannya di lenganku.

"Kenapa? Kebanyakan ya itu bolanya? Menurutku sih tidak, itu sangat pas. Coba kamu hitung"
Aku mengembalikan gelang itu dan memasangkannya di lengannya lagi.

Dia diam tak berbicara, namun jemarinya tampak sedang menghitung bola-bola yang ada di gelang itu.
"30?. Lalu kenapa?"

Aku membisikkanya pelan
"Setengahnya"

"Maksudmu 15?"

Aku tertawa geli.
"Haha, kok 15. Coba kamu ingat-ingat dulu, ada apa dengan 30."

Dia diam tampak sedang memikirkannya.
"Apa naa, coba kasih tau"

Aku diam mengabaikannya.
"Coba ingat-ingat dulu ada apa"

"Setengahnya-setengahnya" Dia tampak sedang berfikir, haha dai tampak manja sedikit.

Tapi aku mengabaikannya begitu saja. Aku memakan spaghetti ku dan menyeruput cappuchino hangatku. Sementara dia mencabik-cabik roti bakarnya seolah sedang berfikir keras.

Aku kasihan melihatnya.
"Sayang, sayang gini. Biar aku kasih clue. 30 Itu setengahnya"

"Setengahnya, berarti 60 dong?"

"Iya 60, hayo ada apa dengan 60?"

Dia berfikir lagi. Aku bilang "Kamu lupa? ahh kamu ini dasar memang, benar-benar pelupa yang parah, 60 itu kan awalnya juga waktu kita disini"

"Iyaa naaa, jam yang baru aja ku lepas bisa ku lupakan, apalagi sudah lama"

"Kamu ini memang lhooo, awas aja kalau kamu lupa kalau punya aku"

"Haha nda lah, kalau aku lupa kan ada kamu yang bisa selalu ingatin. Kamu kan penulis, jadi selalu ingat."

Aku menatapnya heran
"Apa hubungannya coba??? Lagian aku bukan penulis."

Kami terus berbicara sangat lama dengan berbagai perbincangan yang melenceng kemana-mana. Sampai pada akhirnya dia tau bahwa itu adalah angka yang kami berdua suka.

6 dan 0
Dia 6.
Aku 0.

Dia bilang, dia suka 6 karena setelah garis, dia membuat lingkaran jadi terlindungi.

Aku bilang, aku suka 0 karena aku berharap bahwa aku adalah angka 0 di hidupnya. Jadi jika dia menyukai angka berapa saja, jika dia memiliki apa saja, pernah memiliki berapapun apa pun dan kapanpun itu. Aku ingin hadir di garis belakang menjadi angka 0. Karena angka berapapun yang kamu punya jika kamu kali kan dengan angka 0, maka yang kamu temukan itu adalah aku. Yaitu 0. 0 lah yang membuatmu akan selalu menemukanku.

"Jadi sayang, jika gelang itu adalah 30, itu artinya?"

"Artinya ada setengahnya lagi."

"Iya itu artinya apa?"

"Ada yang satunya lagi, mana?"

Aku mengambil dari saku celanaku.
"Ini"

Dia mengambilnya dan mengenakannya di lenganku, kemudian setelah itu dia mencium pipiku.






Sudah ya, sampai disitu aja suratnya, maaf berantakan. Keburu lewat deadline ini. Haha




From : Kami


Jum'at 20 Februari 2015
#Day22 #30HariMenulisSuratCinta

No comments:

Post a Comment